Secara bahasa razaqa artinya a’thâ (memberi) dan ar-rizqu artinya al-‘atha’ (pemberian). 1 Menurut ar-Razi dan al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu (bagian/porsi), yaitu nasib (bagian) seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain. Karena itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan al-hazhzhu al-mu’thâ (bagian/porsi yang diberikan).2 Menurut Ibn Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian/porsi). Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi (seseorang) dari pemberian Allah adalah rizq[an]. Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semuanya itu, ar-rizqu bisa diartikan sebagai: bagian/porsi
dari pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa
dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.
Ayat-ayat
tentang rezeki lebih banyak menunjuk pada harta baik berupa barang
maupun jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi aneka kebutuhan
manusia. Konteks ayat-ayat bahwa Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki
juga lebih menunjuk pada konotasi harta. Itu pula yang
diindikasikan oleh ayat-ayat yang mengaitkan rezeki dengan konsumsi dan
infak (pembelanjaan), karena konsumsi dan infak hanya terkait dengan
harta.
Rezeki berbeda dengan kepemilikan. Kepemilikan adalah penguasaan sesuatu dengan tatacara yang diperbolehkan syariah untuk menguasai harta. Jadi, rezeki itu mencakup rezeki yang halal maupun yang haram. Inilah yang menjadi pendapat Ahlus Sunnah sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam al-Qurthubi. Semuanya dikatakan sebagai rezeki. Harta
yang diambil penjudi dari lawannya dalam perjudian adalah rezeki.
Sebab, rezeki yang halal ataupun haram itu adalah harta yang diberikan
oleh Allah ketika seseorang berbuat untuk melangsungkan kondisi yang di
dalamnya bisa diperoleh rezeki.3
Rezeki bukan hanya yang secara riil dimanfaatkan (dinikmati) oleh seseorang. Ayat-ayat
al-Quran menunjukkan bahwa rezeki manusia adalah apa saja yang ia
kuasai baik yang ia manfaatkan maupun tidak (Lihat QS al-Baqarah [2]:
57, 60; an-Nisa’ [4]: 5; ar-Ra’d [13]: 26; al-Hajj [22]: 34). Ayat-ayat
itu jelas memutlakkan rezeki untuk menyebut semua yang dikuasai baik
dimanfaatkan (secara riil) maupun tidak. Tidak bisa dikhususkan pada apa
yang dimanfaatkan (secara riil) saja tanpa ada ayat yang
mengkhususkannya, karena ayat-ayat tersebut bersifat umum dan
penunjukannya juga umum. Jika orang mencuri, menilap atau
merampas harta orang lain, tidak dikatakan ia mengambil rezeki orang
itu. Namun, ia mengambil rezkinya dari orang itu. Tidak ada seorang pun
yang mengambil rezeki orang lain, melainkan seseorang mengambil
rezekinya dari pihak lain.
Rezeki dan Usaha
Banyak orang
menduga, merekalah yang mendatangkan rezeki mereka sendiri. Mereka
menganggap kondisi-kondisi mereka meraih harta—barang atau jasa–sebagai
sebab datangnya rezeki; meskipun mereka menyatakan, bahwa Allahlah Yang
memberikan rezeki. Profesi atau usaha yang dicurahkan mereka anggap
sebagai sebab datangnya rezeki.
Fakta yang ada sebenarnya cukup jelas menunjukkan kesalahan anggapan itu. Banyak
orang yang telah berusaha dengan segenap tenaga dan pikirannya, tetapi
rezeki tidak datang, bahkan tidak jarang justru merugi. Sebaliknya,
sangat banyak fakta bahwa rezeki datang kepada seseorang tanpa dia
melakukan usaha apapun. Ini menunjukkan bahwa usaha bukan sebab bagi datangnya rezeki. Rezeki tidak berada di tangan manusia. Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia dan Dia memberinya kepada manusia menurut kehendak-Nya.
Banyak ayat
al-Quran menegaskan secara pasti bahwa rezeki semata ada di tangan Allah
dan Allahlah yang memberi rezeki (QS al-Baqarah [2]: 172, 212, 254; Ali
Imran [3]: 27, 37; al-An’am [6]: 142; al-‘Ankabut [29]: 60; ar-Rum
[30]: 40; dsb). Dia meluaskan dan menyempitkan rezeki
seseorang sesuai dengan kehendakNya (QS ar-Ra’d [13]: 26; al-Isra’ [17]:
30; al-Qashshash [28]: 82; al-‘Ankabut [29]: 62; ar-Rum [30]: 37; Saba’
[34]: 36; az-Zumar [39]: 52; asy-Syura [42]: 12). Sesuai kehendak-Nya,
Dia memberi rezeki kepada seseorang dari arah yang tidak
disangka-sangka. Karena itu, Allah SWT berfirman (artinya): Mintalah rezeki itu di sisi Allah (TQS al-‘Ankabut [29]: 17). Jadi,
rezeki semata di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi rezeki.
Ini adalah keyakinan yang harus diimani dan mengingkarinya berarti
kufur.
Adapun dari
sisi amal, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk berusaha dan berikhtiar
melangsungkan kondisi-kondisi yang di dalamnya rezeki bisa datang. Namun, pada saat yang sama, ia harus paham bahwa usaha, ikhtiar dan kondisi itu bukan sebab bagi datangnya rezeki. Allah
tidak menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, tetapi Allah akan
menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki. Karenanya, Allah menjelaskan mana yang halal dan yang tidak.
Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba (Lihat: QS Hud [11]: 6)
Imam Muslim
meriwayatkan dari Ibn Mas’ud bahwa pada usia kandungan 120 hari, Allah
mengutus malaikat untuk menuliskan beberapa ketetapan atas janin itu,
termasuk ketetapan rezeki dan ajalnya. Para ulama menjelaskan, yaitu ketetapan sedikit dan banyaknya rezeki. Sedikit
dan banyaknya rezeki atau kaya dan miskinnya seorang hamba tidak akan
dihisab oleh Allah karena itu semata adalah ketetapan Allah.
Allah SWT meluaskan dan menyempitkan rezeki seorang hamba sesuai kehendak-Nya. Itu adalah ujian bagi hamba (QS al-Fajr [89]: 15-16). Kaya dan miskin tidak bersifat baik atau buruk dengan sendirinya; juga tidak menentukan mulia dan hinanya seseorang. Namun, kaya dan miskin itu menjadi baik atau buruk, memuliakan atau menghinakan, ditentukan oleh penyikapan terhadapnya.
Rezeki seorang hamba telah dijamin oleh Allah. Porsi dan takarannya juga telah ditetapkan. Jika hamba itu memintanya dengan jalan yang halal ataupun dengan jalan yang haram, Allah berikan. Namun, Allah akan menanyai tatacara perolehan dan pembelanjaan harta itu.
لاَ
تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ
عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ
مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا
أَبْلاَهُ
Kedua
kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia
ditanya: umurnya dia habiskan untuk apa; ilmunya diamalkan untuk apa;
hartanya dari mana ia peroleh dan dibelanjakan untuk apa’;dan tubuhnya
digunakan untuk apa (HR at-Tirmidzi).
Seret atau
tertundanya rezeki hendaknya tidak membuat seseorang tergesa-gesa lalu
memintanya kepada Allah dan mencarinya dengan jalan yang haram. Rasul saw. berpesan:
إِنَّ
رُوْحَ الْقُدْسِ نَفَثَ فِيْ رَوْعِيْ: إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتُ
حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِيْ
الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ
تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِيْ اللهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرَكُ مَا عِنْدَهُ
إِلاَّ بِطَاعَتِهِ
Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah (rezeki) dengan cara yang baik—halal, proporsional dan tidak tersibukkan dengannya—dan hendaklah tertundanya (lambatnya datang) rezeki tidak mendorong kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya keridhaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya (HR Abu Nu’aim, al-Baihaqi dan al-Bazar dari Ibn Mas’ud).
Keimanan
tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seorang tidak akan
tersibukkan dengan dunia, tidak menjadi pemburu harta, bisa bersikap
zuhud, giat beramal, berdakwah amar makruf nahi mungkar dan ketaatan pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang rahasia zuhudnya. Beliau
menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang lain. Karena
itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan
oleh selainku,. Karena itu, aku pun sibuk beramal. Aku tahu Allah
selalu mengawasiku. Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas
kemaksiatan. Aku pun tahu kematian menungguku. Karena itu, aku
mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.”
Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Yahya Abdurrahman]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar